Sebuah fosil yang baru teridentifikasi ternyata dapat menjelaskan salah satu misteri evolusi terbesar, yaitu asal mula kura-kura memperoleh tempurungnya. Potongan tulang reptil darat berusia 210 juta tahun dari New Mexico itu menunjukkan bahwa kura-kura purba bisa dibilang sama sekali tidak memiliki tempurung.
Selama beberapa juta tahun, barisan plat pelindung yang awalnya lebih mirip duri-duri keras secara bertahap mulai menyatu, bahkan bergabung dengan tulang rangka reptil. Proses itu akhirnya menghasilkan sebuah tempurung yang utuh.
“Kura-kura berasal dari sesuatu yang mirip dengan seekor armadillo,” kata peneliti utama Walter Joyce, ahli palaeontologi di Peabody Museum of Natural History di New Heaven, Connecticut, Amerika Serikat.
Fosil berupa potongan tulang leher reptil baru itu ditemukan oleh rekannya, Spencer Lucas, dari New Mexico Museum of Natural History and Science di Albuquerque, lebih dari 10 tahun lalu. Namun bukti itu masih diperdebatkan karena kerangka yang ditemukan terlalu kecil.
Keraguan itu lenyap ketika erosi yang terjadi di Albuquerque belum lama ini mengungkap lebih banyak potongan kerangka Chinlechelys tenertesta, yang berarti kura-kura tempurung tipis. Spesies kura-kura baru ini memiliki panjang 30 sentimeter, dengan lebar tempurung hanya beberapa milimeter. “Ini kura-kura tempurung tertipis yang pernah ditemukan,” kata Joyce.
Karakteristik yang terpenting adalah tulang rusuk punggung reptil itu belum sepenuhnya menyatu dengan tempurung atau carapace. Pada fosil kura-kura dari masa yang lebih muda dan kura-kura modern, tulang itu telah menyatu dengan tempurungnya.
“Ini penemuan baru yang amat penting,” kata Guillermo Rougier, ilmuwan dari University of Louisville di Kentucky. “Satwa baru ini adalah nenek moyang kura-kura, boleh dibilang proto-turtle.”
Walaupun proses perkembangan tempurung telah diketahui, para ilmuwan belum bisa mengetahui mengapa binatang itu mengubah bentuk tempurungnya. Tempurung yang utuh seperti yang dimiliki kura-kura modern kemungkinan memberikan stabilitas dan perlindungan.
sumber : TJANDRA DEWI | NEWSCIENTIST pada http://tempointeraktif.com/

