1

Rumah kopi klasik eropa

Ada gelas bening besar di tangan pria-wanita itu. Tawa, senyum, dan ucapan muncul bergantian diselingi tegukan dari mug. Suatu sore, di sebuah sofa di Les Classiques Cafe, Kemang, Jakarta, pasangan itu bercengkerama. Cukup dengan segelas cokelat hangat, keriangan pun meruap. Suasana menjadi hangat. Sekitar pukul tujuh malam, pasangan berbeda kulit itu melangkah keluar dengan senyuman cerah. Kenikmatan cokelat masih menempel di bibir mereka.

Malam yang lain, ada Maria ditemani dua pria. Ia menyeruput cappuccino dengan penuh semangat. Wanita berkulit putih ini penggemar berat minuman itu. “Kualitas cappuccino bisa dilihat dari busanya. Yang ini kental dan tak berubah hingga akhir,” tuturnya. Ia pun mencomot kue cokelat rasa rum. Mantap dan, menurut dia, lebih enak ketimbang yang ada di sebuah toko kue terkenal. “Lagi pula, di sini suasananya santai, enak untuk ngobrol.” Badannya bersandar nyaman ke sofa. Kakinya pun dinaikkan dan dilipat.

Dinding kaca, dinding bata merah, dan dinding semen putih kelabu mengelilingi mereka. Serta ditemani bunyi nyaring mesin pembuat kopi merek Elektra model Belle Epoque yang berdiri tegak dalam warna keemasan. Benda ini menjadi bagian yang paling menonjol di ruangan yang hanya menampung 30 kursi itu. “Ini coffee house, suasananya benar-benar dibikin seperti ngopi di rumah. Jadi, orang tak datang untuk segelas kopi lantas pergi,” kata Agatis, Manajer Les Classiques. Karena itu, tak disediakan gelas plastik untuk tamu yang ingin membawanya pulang. Yang ada hanya kemasan bubuk kopi dan teh bagi yang ingin menyeduhnya di rumah.

“Kafe ini berkonsep old classic Europe,” kata Dave Shenandoah, yang menjadi konsultan selama enam bulan. Konsep kafe Eropa pada akhir 1940-an. Tak hanya mengundang para penyuka kopi karena beragam teh dan cokelat pun tersedia. “Tapi tak ada fancy drink, seperti frappucino dan smoothies.” Jenis teh ada sekitar delapan, di antaranya earl grey, mint tea, chamomile, dan jardin bleu. Karena itu, ada juga yang datang untuk tegukan secangkir teh. Untuk penggemar cokelat, yang khas di sini adalah cokelat buatan sendiri yang padat dan lumer ketika diguyur susu panas.

Kue dan roti pun berkiblat pada daratan Eropa. Kebanyakan dari Austria, Prancis, dan Italia. Untuk sarapan, ada beragam roti serta sandwich. Semua segar alias dibuat pada hari itu. Beroperasi mulai pukul 6.30 WIB, ruangan yang bersebelahan dengan arena untuk meneguk wine Vin + ini sudah dipenuhi kaum ekspatriat sejak pagi.

Dave menyebutkan, para ibu akan mampir setelah mengantar anaknya sekolah. Ada pula yang sebelum bekerja mampir dulu untuk seteguk espresso seharga Rp 10.500. Jadilah ramai dari pagi dan tentunya malam ketika orang melepas penat dengan meneguk caffe correcto–jenis kopi yang dibubuhi liquor dengan pilihan sambuca dan grand marnier–seharga Rp 39.900. Atau secangkir caffe latte, yang dihiasi seni ala barista dengan hiasan hati dan bunga tulip di atasnya, seharga Rp 26.200.

Untuk teman minum, ada aneka kue klasik. “Ada seorang ibu yang mengaku lemon meringue mirip dengan buatan neneknya sehingga ia seperti melepas kangen,” tutur Agatis. Yang disebut oleh ibu itu tak lain kue dengan rasa jeruk nan segar dan kental seharga Rp 18 ribu per potong.

Yang cukup segar juga adalah kue Agatis. Kue itu perpaduan antara chocolate mousse, apel yang diberi karamel, dan potongan cokelat di bagian atas, serta seharga Rp 30 ribu per potong. Rasanya segar karena rasa apel dan rasa cokelatnya tidak berlebihan. Sang koki memberi nama kue itu Agatis sebagai kado ulang tahun sang manajer pada 22 Mei lalu. Ini memang menu baru di sini. Namun, sesungguhnya kue ini pun bagian dari jenis kue klasik Austria.

Bagi penggemar roti, ada yang khas pula dari Austria, yaitu tomato and olive focaccia–roti seharga Rp 15 ribu dengan taburan potongan buah zaitun dan tomat. Paduan gaya klasik itu mungkin yang tidak ditemukan pada kafe sejenis yang saat ini bertebaran di Jakarta. Tak mengherankan jika sang pemilik, Dieter Speer, memberi slogan khas, The marque of exquisite taste. Berada di lingkungan hunian ekspatriat membuat kafe klasik ini menjadi tempat melepas rindu mereka. SUmber : Tita Nariswari pada http://tempointeraktif.com/hg/kuliner/2009/05/29/brk,20090529-178730,id.html

Filed in: Dunia Teknologi Tags: 

Related Posts

SHARE

One Response to "Rumah kopi klasik eropa"

  1. wah kayak nya enak enak ini.. hehehe.. jadi lapeerr

Leave a Reply

Submit Comment