-

Perjalanan sebutir pasir

Rob Holman punya koleksi yang unik. Ahli oseanografi pantai itu memiliki koleksi pasir pantai dari hampir 1.000 lokasi di seluruh dunia.

Kegiatan mengumpulkan pasir itu berawal pada 1980-an, ketika Holman masih menjadi geofisikawan muda. Waktu itu, Holman menghadiri sebuah konferensi di San Francisco, Amerika Serikat, yang diakhiri dengan field trip ke pantai. Sebagai pemuda yang tumbuh di Ottawa dan jauh dari pantai, Holman terpesona oleh laut, lalu langsung menaksir kekuatan dan vektor gelombang serta arusnya. Tapi orang-orang di sekelilingnya justru mempelajari pasir pantai itu.

Holman sadar bahwa pasir tidaklah sama di berbagai tempat, sehingga dia pun mulai mengumpulkannya. “Saya mengumpulkan beberapa sampel dan menaruhnya dalam botol,” katanya. “Ketika sudah banyak, saya membuat sebuah rak. Kemudian saya membuat tiga rak lagi. Kemudian saya bikin empat lagi.”

Saat ini, Holman adalah ahli oseanografi pantai terkemuka di Oregon State University yang mengembangkan sistem fotografi terkomputerisasi yang diberi nama Argus. Sistem tersebut membantu ilmuwan memperoleh cara baru untuk mengobservasi dan mengukur pantai.

Meski begitu, Holman tetap mengoleksi pasir, yang dipamerkannya pada rak di koridor depan kantornya. Kini dia telah mengumpulkan hampir 1.000 sampel pasir. Tapi tidak semuanya berasal dari perjalanan Holman, karena banyak sampel yang dikirimkan oleh ahli geologi dan pengumpul pasir amatir dari seluruh dunia.

Sampel pasir itu diterimanya terbungkus dalam amplop, kantong plastik, atau kertas tisu. Pasir-pasir kiriman itu ia keringkan dan dimasukkan ke dalam botol kaca yang dilabelinya dengan data tentang garis lintang serta bujur tempat pasir diambil berdasarkan informasi pemberinya.

Pasir-pasir koleksinya beragam, berasal dari seluruh benua, termasuk dari Antartika. Sayang, pasir dari Benua Afrika tak terlalu banyak. “Sedikitnya sampel itu terjadi karena kecelakaan kecil, saya pernah meruntuhkan sebuah rak,” ujarnya. Juga tak semua pasir itu berasal dari pantai. Uniknya, Holman juga menyimpan pasir dari dasar sungai dan gurun seperti Ayers Rock, Australia.

Apa yang dimulai Holman sebagai perbuatan iseng itu kini berubah menjadi alat mengajar yang berharga. Para mahasiswa geologi di universitas itu mempelajari koleksi pasir milik Holman dan memperoleh banyak pengetahuan. “Barisan ini adalah transect dari utara ke selatan sepanjang pantai timur,” kata Holman sambil menunjuk botol berisi pasir yang diambil dari Pantai Cape Cod sampai Key West.

Menurut Holman, ada perubahan dan perbedaan antara pasir dari masing-masing pantai. “Pasir semakin ringan dan halus,” katanya. “Ini terjadi karena pasir tidak menetap di satu pantai. Di pantai timur, ombak besar datang dari timur laut dan mengangkat pasir itu dari utara ke selatan.”

Pada saat sebutir pasir tersapu dari satu pantai di Florida, dia telah tergerus ombak dalam waktu yang panjang. “Perubahan fisik akibat terus-menerus dihantam ombak menyebabkan butirannya pecah, tepi yang bersudut tajam akan aus dan menjadi lebih bulat,” tuturnya.

Butiran mineral yang relatif lebih padat, seperti garnet, menetap di pantai karena tak terbawa ombak. Hasilnya adalah jajaran sampel pasir yang berubah secara bertahap dari pasir yang relatif gelap dan kasar dari pantai bagian timur laut menjadi pasir putih dan halus di pantai tenggara.

Holman menyimpan dua lusin sampel di rak portabel untuk digunakan di dalam kelas dan saat memberikan kuliah. Beberapa sampel pasir itu adalah butiran pasir vulkanis gelap. Tapi ada satu tabung berisi pasir yang berasal dari Banzai Pipeline, lokasi selancar terkenal di Oahu, Hawaii. “Pasir di pantai itu seluruhnya terdiri atas pecahan cangkang kerang dengan bagian tepi yang membulat,” katanya. “Pasir ini tak akan bertahan lama.”

Rak itu mengilustrasikan banyak hal yang diperlukan untuk mengetahui bagaimana pasir pantai bisa berbeda. “Terkadang saya membawa pasir dalam ujian mahasiswa dan meminta mereka menjelaskan pantai tempat asal pasir tersebut,” ujarnya.

Mahasiswa yang pandai tentu dapat menjawabnya dengan tepat karena ada sejumlah karakteristik yang bisa dilihat, mulai dari kondisi alami pasir dan bentuknya, dari mana kandungan mineralnya berasal, sampai usia dan perbedaan transportasinya. “Semua itu mempengaruhi pasir yang Anda lihat di pantai,” kata Holman.
Sumber : TJANDRA DEWI | NYTIMES pada http://tempointeraktif.com/hg/sains/2009/01/08/brk,20090108-154431,id.html

Filed in: Dunia Sains

Recent Posts

SHARE