Ada-ada saja ulah manusia untuk mempertahankan keamanan.
Merekayasa binatang untuk menjadi senjata mematikan, itu salah
satunya. Bahkan Pentagon tengah menciptakan serangga robot.
Robot menyerupai manusia atau hewan, itu sudah biasa. Kali ini ada
yang disebut sebagai serangga robot, yakni serangga yang memang
sengaja direkayasa agar menjadi robot yang dapat dikendalikan.
Caranya dengan memasukkan semacam sistem microchip ke dalam tubuh
serangga sejak masih berbentuk kepompong. Tujuannya tak lain
adalah agar serangga itu dapat dikendalikan kelak setelah dewasa.
Strategi unik ini ditelurkan oleh Defence Advanced Research
Projects Agency (Darpa), yang bertugas mengembangkan teknologi
terdepan bagi militer Amerika Serikat (AS). Mereka yakin bahwa
ilmuwan dapat mengambil manfaat evolusi serangga seperti capung,
nyamuk dan sejenisnya sejak masih berbentuk kepompong.
“Melalui tahap metamorfosis, tubuh serangga mengalami proses
pembaruan ulang yang dapat membuatnya kebal dan tahan terhadap
benda asing,” demikian proposal yang diajukan Darpa seperti yang
dilansir BBC News belum lama ini. Benda asing yang dimaksud adalah
sistem microchip atau yang biasa dikenal dengan nama MEMS.
Begitu tubuh serangga terbentuk sempurna, mereka dapat
dikendalikan melalui MEM tadi. Bahkan pada tubuh mereka bisa saja
ditanam cairan kimia tertentu atau bahan peledak.
Serangga “cyborg” ini juga mampu memancarkan data dari sistem
sensor, mengirimkan informasi mengenai lingkungan setempat. Sensor
ini termasuk sensor gas, mikrofon, video dan sejenisnya.
Namun usulan Darpa ini tidak selamanya mendapat sambutan baik dari
pihak ilmuwan. Pakar entimologi Dr George McGavin dari Oxford
University Museum of Natural History mengatakan bahwa ide tersebut
terkesan jahat.
“Tidak semua ide aneh tak memiliki nilai. Kadang ada yang
menghasilkan kebaikan. Tapi perasaan saya tentang ide serangga itu
tidak akan menghasilkan hal baik,” komentarnya.
McGavin berpendapat, yang dilakukan serangga dewasa biasanya
adalah bereproduksi dan mengerami telurnya. Itu sudah menjadi pola
hidup mereka.
Jika ingin mengubah pola tersebut maka pola pikir serangga tadi
harus diubah lebih dulu. Ia juga berpikir sangat tidak mungkin
menghubungkan teknologi dengan fase metamorfosis, terutama demi
menciptakan serangga perang.
Sementara itu Prof Andrew Parker, pimpinan peneliti dari Natural
History Museum yang juga spesialis biomimetiks mengatakan bahwa
konsep Darpa memang tidak jauh dari jangkauan hanya masih banyak
keterbatasan.
Teknologi dapat membantu serangga menjadi pembawa bahan kimia
namun untuk menjadikan mereka terkendali sepenuhnya, masih butuh
jalan panjang.
Stuart Hine, pakar entimologi lainnya juga sependapat bahwa agak
sulit menggunakan serangga sebagai pendeteksi bahan peledak.
Uji coba yang dilakukan Darpa sebelumnya adalah merekayasa lebah
menjadi pendeteksi bahan peledak. Sayang usaha ini gagal karena
lebah lebih terpanggil untuk mencari pasangan kawin.(merry
magdalena)
Rekayasa Hewan
untuk Perang
1. Perang Dunia II : Melampirkan bom kepada seekor kucing, lalu
menjatuhkannya laut dimana kapal NAZI berlayar. Kucing yang benci
air akan berusaha menjangkau kapal dan begitu berhasil naik, bom
meledak.
2. Perang Dunia II: Menyisipkan bahan peledak kecil pada
sekumpulan kelelawar dan menjatuhkannya dari pesawat terbang.
Ketika kelelawar sampai di tujuan, bom meledak.
3. Perang Vietnam: Lumba-lumba dilatih untuk mengirimkan gas
karbon dioksida ke penyelam pihak lawan. Ada sekitar 40 penyelam
berhasil terbunuh karenanya. (www.sinarharapan.co.id)
